/Pengamat Energi Sebut Jakarta Mati Lampu Lama Janggal

Pengamat Energi Sebut Jakarta Mati Lampu Lama Janggal

Jakarta, CNN Indonesia — Pengamat menilai kasus mati  listrik yang terjadi pada Minggu (4/8) dan Senin (5/8) masih menyisakan tanda tanya besar. 

Walaupun PT PLN (Persero) sudah berkali-kali menggelar pernyataan pers terkait pemadaman massal yang terjadi Minggu (5/8) kemarin, dan berdalih mati listrik disebabkan kerusakan interkoneksi jaringan tapi mereka menilai masih ada beberapa kejanggalan yang perlu dibuka PLN.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyebut kejanggalan pertama menyangkut rencana cadangan (back-up plan) saat aliran listrik terputus.
Menurutnya, kasus kerusakan transmisi listrik seperti yang terjadi kemarin sejatinya lazim di negara yang menggunakan sistem jaringan interkoneksi. 

Dan biasanya, ketika jaringan transmisi sedang rusak, ada back up plan agar listrik tetap mengalir. Adapun, sistem interkoneksi Jawa-Bali sebetulnya masih bisa menanggung beban ketika jaringannya sedang terganggu. 

Pernyataan tersebut ia sampaikan dengan mengacu pada data PLN bahwa beban puncak penggunaan listrik Jawa-Bali sebesar 27.070 Megawatt (MW). Beban puncak tersebut masih lebih kecil ketimbang kapasitas listrik terpasang 34.550 MW. 

Dengan kata lain, reserve margin yang dimiliki sistem listrik Jawa dan Bali ada di angka 21,65 persen. Ia kemudian mempertanyakan mengapa cadangan daya ini tidak langsung berfungsi ketika transmisi interkoneksi Jawa-Bali terganggu.

“Ketika saluran listrik dari timur ke barat ini terputus, otomatis pembangkit yang di barat ini back up. Tapi kenapa berfungsinya bisa lama sekali,” jelas Fabby kepada CNNIndonesia.com, Senin (5/8).

Padahal menurut Fabby, seharusnya pemadaman kemarin masih bisa diantisipasi menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Muara Karang dan PLTGU Tanjung Priok. Berbekal tenaga gas, harusnya dua pembangkit itu bisa beroperasi dengan cepat.


Kedua pembangkit itu seharusnya selalu siaga jika ada gangguan transmisi seperti yang terjadi kemarin.  Namun, entah kenapa dua pembangkit itu tak serta merta langsung difungsikan. 

Masalah tersebut membuatnya menduga-duga bahwa bisa jadi pasokan gas ke dua PLTGU tak mumpuni sehingga kerjanya tak maksimal.

“Saya memilih untuk tak berspekulasi, tapi sebenarnya apa yang terjadi dengan pembangkit-pembangkit yang seharusnya stand by itu? Apakah gasnya tidak cukup? Atau seperti apa? Padahal kan dua pembangkit itu seharusnya jadi penyeimbang, spinning reserve sistem kelistrikan di situ,” jelas dia.

Tak hanya di soal back-up plan, PLN disebutnya masih belum membuka dengan jelas pangkal masalah pemadaman kemarin. Di dalam pernyataan kemarin, perusahaan setrum pelat merah itu kerap menyebut gangguan interkoneksi menjadi biang keladinya. Sayangnya, PLN tak pernah menjelaskan sebab gangguan tersebut.

Buramnya alasan penyebab kerusakan, lanjut Fabby, kemudian berubah menjadi spekulasi liar di publik.

“Kalau sudah tahu gangguannya kan kemudian bisa diinvestigasi dengan ahli independen, tapi sampai sekarang saja masih tak jelas penyebabnya apa. Apakah benar gangguan? Atau kesengajaan? Atau memang operation and maintenanceyang tidak baik? Faktor-faktor ini yang belum dipahami,” jelas dia.Sementara itu, Direktur Indonesia Resource Studies (IRESS) 

Marwan Batubara mengatakan kondisi yang terjadi kemarin merupakan buah dari perencanaan ketenagalistrikan yang tidak matang. Hal itu terlihat dari komposisi pembangkit yang ada di Jawa.

Saat ini, penyokong utama kelistrikan di Jawa-Bali adalah PLTU. Hanya saja, PLTU tak serta merta otomatis berfungsi ketika jaringan transmisi dari timur ke barat sedang rusak. Hal itulah yang terjadi ketika PLTU Suralaya mencoba mengamankan pasokan listrik, kemarin.

Padahal, jika pemerintah menyusun back-up plan dengan membangun pembangkit listrik tenaga lain, harusnya antisipasi bisa dilakukan dengan cepat.

“Makanya ketika pembangkit di barat ini standby, ternyata tidak cepat menggantikan yang terputus kan. Bagusnya kemarin PLN mengandalkan PLTA Saguling dan Cirata, jadi langkah antisipasi bisa lebih cepat,” jelas dia.

Hanya saja, nasi sudah menjadi bubur. Perencanaan yang seharusnya dilakukan kemarin dirasa tak apik jika diungkit kembali. Maka dari itu, ia menyarankan PLN dan pemerintah kini fokus memperbaiki jaringan transmisi interkoneksi Jawa-Bali agar tak terjadi kerusakan lagi.

Ini bisa dimulai dengan menguak pangkal kerusakan sistem, yang sampai saat ini masih mengundang tanda tanya.

“Kami tentu berharap PLN menyelidiki, apakah jaringan itu sudah tua? Atau ada sabotase? Dan ke depan tentu pemerintah harus mengawasi betul perencanaan jaringan dan pembangkitan PLN agar listrik tetap andal,” jelas dia.

Sumber :
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190805180003-85-418615/pengamat-energi-sebut-jakarta-mati-lampu-lama-janggal

TAGS: